19 Juni 2009

SEKOLAH, MASIH PERLUKAH?

“Kebanyakan sistem pendidikan saat ini diprogram untuk gagal” The Learning Revolution, pg 269.

Sebelum tulisan ini mengurai opini di atas, apa yang otak anda rasakan saat pesan itu sampai di dendrite dan memori anda? Mungkin saja anda kaget karena ini merupakan pertanyaan dan pernyataan yang boleh dibilang subversive.

Untuk anda yang kaget, penulis akan memberi sebuah realita sebagai argumentasi. Memang argumentasi ini tidak ditulis atas dasar riset professional yang memerlukan waktu bertahun-tahun tetapi cukup kuat sebagai pembenaran atas opini tersebut.

Sejak Indonesia merdeka 68 tahun lalu, sistem dan strategi pendidikan Indonesia mengalami perubahan berputar (cycled changes). Perubahan ini terjadi setiap kali muncul menteri baru yang menangani soal pendidikan. Itu berarti bahwa menteri baru, aturan ikut baru. Ironisnya adalah perubahan itu bukan terhadap kualitas menyeluruh yang melingkupi managemen dan SDM masyarakat pendidikan tetapi hanya berputar dari bentuk sistem yang ditempuh oleh menteri sebelumnya. Ketetapan dan kebijakan menteri yang pernah ditinggalkan dipakai oleh menteri yang lain. Anda masih ingat dengan penamaan caturwulan dan semester? Nama ini dipakai lalu hilang dan dipakai lagi. Evaluasi Hasil Belajar direntang setiap empat bulan lalu berubah menjadi setiap enam bulan. Begitu seterusnya. Perubahan terjadi pada mekanisme pendidikan tetapi tidak menyentuh pada perubahan mendasar. Perubahan Visi, strategi dan qualitas pendidikan justeru terabaikan.

Yang menyedihkan lagi adalah pemerintah menunjuk seorang menteri pendidikan yang tidak memiliki kapabilitas dan latar belakang pendidikan. Pada kabinet Indonesia bersatu di zaman megawati, seorang menteri pertahanan diangkat menjadi menteri pendidikan. Di era SBY, seorang ekonom tampil sebagai menteri pendidikan. Di era SBY pula wakil presiden yang pengusaha itu mempengaruhi kebijakan pendidikan. Tumpang tindih kebijakan pendidikan ini berpengaruh terhadap SDM secara umum sehingga muncul perlawanan masyarakat terhadap arus dan kebijakan pemerintah yang plintat-plintut itu.

? Kalau ini terus terjadi, maka rasa kaget anda membaca opini dan judul di atas terjawab sudah. Bukankah kinerja ini hanya akan mempersiapkan sebuah kegagalan? Adakah sebuah hasil maksimal muncul dalam sebuah kinerja yang amburadul? Kalau mekanisme kerja dan program saja sudah berantakan, maka kinerjanya juga akan berantakan. Hasilnya? Dari kinerja yang amburadul, Pendidikan hanya melahirkan sebuah pribadi yang menghamba kepada Kapitalist. Pendidikan hanya mengantar siswanya ke sebuah pabrik dan pertokoan cina untuk dijadikan budak ekonomi mereka. Kalau bukan kegagalan, kata apa lagi yang pantas untuk dunia pendidikan kita?

Kalau demikian adanya, masih perlukan kita bersekolah? Bukankah sekolah merupakan sebuah institusi terpadu (integrated institution) yang menjadi wadah bagi rakyat melejitkan potensi diri mereka? Setiap rentang pendidikan yang ditempuh mulai dari SD, SMP, SMU dan perguruan tinggi sudah sepatutnya memberi keterampilan warga belajar sesuai dengan capaian kurikulum yang ditargetkan.

Lembaga ini telah merubah visi besarnya dari pendidikan menjadi perusahaan. Masyarakat universitas menjadi masyarakat tani dan buruh. Peserta dan warga belajar menjadi sapi perah dengan biaya pendidikan yang tinggi. Setelah selesai menjalani rentang pendidikan yang mahal ini, seorang mahasiswa harus menganggur karena ketiadaan lapangan pekerjaan dan skill yang dimiliki. Linked and matched yang pernah menjadi bagian pendidikan, lenyap entah kemana. Kalau toh ada, pekerjaan itu tidak memiliki keterkaitan dengan fakultas/studi yang diambilnya. Kalau pendidikan tidak diprogram untuk gagal, mengapa mahasiswa lulusan fakultas ekonomi harus bekerja sebagai sopir? Kalau hanya menjadi sopir, mengapa harus ke perguruan tinggi yang mengeluarkan biaya besar? Mengapa tidak mengambil kursus mengemudi saja?

Memang tidak ada sekolah atau pendidikan yang menciptakan kesuksesan bagi semua siswanya tetapi pengelolaan pendidikan dengan visi strategis menjadi sebuah sebab munculnya generasi unggul.

Dengan argumentasi yang jelas dan lugas ini, anda tidak perlu kaget lagi membaca opini di atas. Masih tertarik dengan sekolah? ( 19 Juni 2009 )

Tidak ada komentar: