Semburat matahari meninggalkan jejak pada bumi yang direngkuh
Guyur hujan menderu melapis debu menguap tebal asap berdebu
Semilir sepoi angin menyentuh dahi berpeluh dengan butir keringat
Mata sang pejuang menatap sendu pesta pora kemerdekaan…
Keringat kering menempel jelas pada kulit menua
Genderang perang masih terdengar di telinga mereka yang telah tuli
Samar-samar suara itu mendekat menjadi bayang dan pudar
Senyumnya ia paksakan menatap kita dari kejauhan
Bekas luka di sekujur tubuh ia tatap begitu semangat
Nyeri tak lagi membentang bersama harap di awang-awang
Tawa simpul sang pejuang menahan malu dihadapan umat
Anggukkan kepala menorah sakit bukan kepalang
Kini…….
Bagai kotoran hewan kita memandang
Bagai sampah yang terbuang
Merenung nasib yang tak pernah datang
Terdesak oleh keringat kemerdekaan
Merekapun hidup menggelandang
Sang pejuang kini terpelanting dengan hura-hura yang dipertontonkan
Sang pejuang kini harus tersingkir dari kemerdekaan yang ia berikan
Ia pun menepi di balik sunyi kehidupan tanpa iba tanpa belasungkawa
Ia terjungkal oleh kerakusan tidak bermoral
Lantas…..
Mestikah kita berdiam dengan rayap yang terus menggerus kehidupan para pejuang?
Atau mata hati ini telah mati oleh nikmatnya kehidupan?
Hmmm….pantaslah bila kemudian azab dan murka menjadi sebuah pembelajaran
Karna perlakuan dan penghormatan anak negeri tak lagi berpihak pada veteran
Mari sadarkan diri dari nina bobo yang begitu kuat mematri
Mari berbagi demi mereka yang telah menggadai nyawa demi negeri
Tidak berharap mereka atas apa yang telah mereka tanamkan
Tapi tak jua salah memberi ketentraman dan ketenangan
Di negeri yang mereka persembahkan
Kerakusan kita memlebihi binatang
Merampas hidup dan kehidupan para pejuang
Inikah kemerdekaan?
Pangdam Jaya: Ada Umat Islam Pakai 'Amar Makruf' untuk Klaim Kebenaran
-
Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman menyebut ada segelintir umat Islam
yang memakai istilah 'amar makruf nahi mungkar' untuk mengklaim kebenaran.
5 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar